Takbir Cinta Zahrana /bag Terakhir

(Sebuah Novelet Pembangun Jiwa)
Hari pernikahan Zahrana semakin dekat. Zahrana telah
memilih gaun pengantinnya. Gaun pengantin Muslimah
hijau muda yang sangat anggun. la memang suka warna
hijau muda. Gaun pengantin itu ia beli dari butik
Muslimah terkemuka di Solo.
Sore itu, ia mencoba gaun itu di kamarnya. Sambil
memandang wajahnya ke cermin ia berkata,
“Akhirnya aku akan jadi pengantin juga. Aku akan punya
suami. Aku akan hidup membina rumah tangga layaknya
yang lain.”
Hatinya berbunga-bunga. la bahagia. Jika boleh
meminta ia masih ingin meminta akad nikah dan
walimatul ursy-nya. dipercepat lagi saja. Ia ingin
segera mengatakan pada dunia bahwa ia juga berhak
hidup wajar seperti yang lainnya. Hidup berkeluarga.
Memiliki suami yang baik dan setia. Dan kelak memiliki
anakanak yang menjadi penyejuk jiwa.
Tiba-tiba hp-nya. berdering. Satu SMS masuk,
“Apa kabar perawan tua? Jika kau telah beli gaun
pengantin. Sebaiknya kaukembalikan saja. Kau tak akan
memakainya di hari pernikahan yang telah kautentukan.
Kau masih akan lama menyandang statusmu sebagai
perawan tua. Bukankah jadi perawan tua itu indah. Tiap
saat dilamar banyak orang dan bisa dengan
semenamena menolaknya. Kenapa kau tidak
menikmatinya saja? Kenapa tergesa-gesa? Demi
kebaikanmu sendiri, sebaiknya kaukembalikan saja gaun
pengantinmu itu. Jadilah perawan tua selamanya.”
Ia kaget. SMS berisi kata-kata teror itu muncul lagi.
Entah kenapa, kali ini ia tidak setenang dulu
menghadapai SMS teror itu. Kali ini ia sangat marah.
Rasanya ia ingin membunuh orang yang mengirim SMS
kurang ajar itu. Dengan sangat geram ia membalas,
“Semoga laknat Allah mengenaimu hai iblis tua! Semoga
kau menemui ajalmu dalam keadaan hina di mata
manusia!”
* * *
Persiapan perhelatan akad nikah dan walimatul ursy di
rumah Zahrana nyaris sempurna. Besok acara
pernikahan itu akan berlangsung. Rumah itu kini ramai
dengan orang. Anak-anak kecil berlarian main
kejarkejaran.
Pengeras suara telah dipasang. Lagu-lagu khas pesta
pernikahan dinyalakan. Sore itu syair lagu dari group
kasidah Nasyida Ria berkumandang,
Duhai senangnya pengantin baru.
Duduk bersanding bersenda gurau.
Zahrana tersenyum. Besok ia akan mengalaminya.
Duduk bersanding dengan suaminya. Zahrana ingin
membantu kaum ibu di dapur menyiapkan segala
sesuatu. Tapi mereka meminta Zahrana istirahat saja Maka setelah shalat Isya ia langsung tidur, agar besok
ia benar-benar fresh dan segar.
Lagu-lagu bahagia masih mengalun. Di luar kamarnya
kesibukan terus berjalan sebagaimana mestinya. Anakanak
kecil tertawa-tertawa bahagia.
Mereka berlarian sambil memegang kue di tangannya.
Zahrana tidur dalam kebahagiaan tiada terkira. Lagu
yang terakhir ia dengar adalah alunan suara Nasyida
Ria,
Duhai senangnya pengantin baru.
Duduk bersanding bersenda gurau.
Ia benar-benar tidur pulas dan nyenyak. Jam setengah
tiga malam ia dibangunkan. Tidur bahagianya hilang. Ia
kaget ada keributan. Ibunya menangis menjerit-jerit
seperti orang kesurupan. Bapaknya terpekur di kursi
seperti patung. Linalah yang membangunkannya.
“Ada apa ini Lin?” tanyanya heran. Ada kecemasan luar
biasa yang tiba-tiba masuk dalam hatinya.
Lina yang ia tanya malah menangis.
“Rahmad Rana? Rahmad calon suamimu Rana!”
“Ada apa dengan Rahmad?”
Lina tidak menjawab malah semakin keras terisakisak.
Paman Rahmad yang ternyata ada di situ menjawab,
“Rahmad telah tiada, Anakku! Rahmad meninggal dunia!”
“Apa!!?” Ia kaget bagai tersengat listrik beribu-ribu
volt.
“Rahmad mati tertabrak kereta api!” lanjut Paman
Rahmad.
“Oh tidak! Tidak! Tidaaak!” Zahrana menjerit histeris.
Jeritannya menyayat hati siapa saja yang
mendengarnya. Setelah itu ia pingsan seketika. Semua
yang ada di rumah itu terpukul. Para tetangga Zahrana
yang mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi ikut
sedih dan meneteskan airmata.
Para tetangga itu lalu bertanya satu-sama-lain,
“Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana Rahmad bisa
tertabrak kereta api? Di malam menjelang akad nikah,
bukankah sebaiknya ia di rumah saja istirahat? Kenapa
bisa sampai tertabrak kereta api? Apa yang ia lakukan
sebenarnya?”
Paman Rahmad menjelaskan,
“Habis shalat Maghrib tadi ada yang menelpon hpnya.
Katanya teman lama ingin bertemu di Pasar Mranggen.
Rahmad minta temannya itu datang ke rumah saja. Tapi
temannya itu mengatakan tidak bisa. Temannya itu
memaksa Rahmad pergi menemuinya. Karena berkaitan
dengan bisnis yang sangat pen ting. Dan Rahmad akan
diajak sedikit mengetahui prospeknya. Akhirnya
Rahmad pergi. Sekalian beli peci baru. Sebenarnya
keluarga melarang, tapi Rahmad memaksa pergi. Ia
memaksa pergi sendirian. Saudara sepupunya mau ikut
bersamanya tapi dilarangnya dengan alasan tenaga
saudara sepupunya itu sangat dibutuhkan di rumah.
Sampai jam sepuluh malam Rahmad belum juga pulang.
Sebagian orang cemas, sebagian yang lain marah Rahmad tidak segera pulang malah begadang dengan
temannya yang tak dijelaskan siapa.
Tepat tengah malam tadi dua orang polisi datang.
Mereka memberitahu ada mayat tertabrak kereta api,
dan dari KTP di dompetnya diketahui bernama Rahmad.
Sebagian orang memastikan ke tempat kecelakaan. Dan
benar mayat yang berlumuran darah itu memang
Rahmad.”
Mendengar cerita itu semua diam. Semua membisu.
Semua larut dalam kesedihan yang dalam. Zahrana
masih pingsan.
***
Pagi harinya bukan pesta pernikahan yang digelar tapi
upacara belasungkawa kematian. Tak ada lagu bahagia.
Tak ada senyum dan canda. Tak ada gelak tawa. Yang
ada adalah mata yang berkaca-kaca dan rinai tangis
dalam jiwa.
Zahrana belum bisa menerima apa yang terjadi. la
masih pingsan berkali-kali. Lina berinisiatif membawa
Zahrana ke rumah sakit. Zahrana harus dijauhkan dari
suasana yang masih diselimuti sedih itu. Zahrana harus
dijauhkan dari rumahnya, di mana ia siap
melangsungkan akad nikah, namun tiba-tiba
menciptakan trauma baginya.
Lina membawa Zahrana yang masih pingsan ke RS.
Roemani. Lina memilihkan kamar VIP agar Zahrana bisa
beristirahat dengan nyaman. Menjelang Zuhur Zahrana siuman. Lina ada di sampingnya menenangkan. Setelah
minum air putih tiga teguk Zahrana menangis.
“Lebih baik aku mati saja Lin. Aku nyaris tidak kuat!”
katanya dalam pelukan Lina dengan terisak-isak.
“Sebut nama Allah ya Rana! Sebut nama Allah! Ingatlah
Allah! Bersabarlah! Mintalah kepada Allah agar musibah
ini diberi ganti yang lebih baik.” Lina mencoba
menguatkan.
“Tapi aku bisa gila Lin. Aku bisa gila! Aku shock!
Daripada aku gila lebih baik aku mati saja!”
“Tidak, kau tidak akan gila. Kau akan baik-baik saja.
Percayalah ini ujian dari Allah untuk memilihmu menjadi
kekasih-Nya.”
“Tak tahu aku harus bagaimana Lin.”
“Sudahlah kau istirahat dulu. Tubuhmu sangat lemah.
Banyaklah berzikir. Dengan banyak berzikir hati akan
tenang!”
Dengan setia Lina menemani Zahrana. Segala usaha ia
kerahkan untuk menghibur teman karibnya itu.
“Anakmu bagaimana Lin, kalau kau di sini?” tanya
Zahrana.
“Tenang sudah ada yang mengurus. Anakku sedang
bersama kakek dan neneknya di Ungaran.”
Tiba-tiba airmata Zahrana kembali keluar.
“Bahagianya punya anak. Kau beruntung Lin. Punya
suami baik. Anak lucu-lucu. Keluarga besar yang penuh
kasih sayang. Sementara aku. Jangankan anak. Suami
saja tidak punya. Baru mau punya sudah pergi….”
Kata Zahrana sambil menangis memandang langit-langit
kamar rumah sakit.
“Sudahlah Rana. Sudahlah. Hanya belum tiba saatnya
saja. Nanti kalau tiba saatnya kau insya Allah akan
memiliki yang lebih baik dari yang aku miliki.”
“Entahlah Lin, harapanku sudah pupus. Aku merasa
tidak bergairah hidup lagi.”
“Tidak Rana. Kau tidak boleh pupus harapan. Ingatlah
Allah Mahaluas kasih sayang-Nya. Percayalah ini cuma
ujian kecil. Masih banyak hamba Allah di muka bumi ini
yang diuji dengan ujian yang jauh lebih besar dari yang
kaualami. Ayolah Rana, kau harus tabah! Kau harus
tegar! Kau harus kuat! Kau harus terus maju! Kau tak
boleh menyerah. Putus asa berarti kau menyerahkan
dirimu dalam perangkap setan!”
“Yah doakan aku ya Lin. Semoga aku kuat. Tapi bagiku
ini sangat berat!”
“Aku tahu ini berat, tapi aku yakin kau mampu
menghadapinya Rana. Aku yakin.”
“Aku beruntung punya teman sepertimu Lina. Terima
kasih ya Lin…Kau baik sekali!” Lirih Zahrana dengan
mata berlinang-linang.
“Aku juga sangat beruntung punya teman sepertimu
Rana. Aku banyak belajar kesabaran dan ketegaran
justru darimu. Aku selalu berdoa agar kau bahagia.”
Pintu diketuk. Seorang dokter berjilbab masuk. Dengan
ramah dokter setengah baya itu memeriksa kondisi
Zahrana. Semua keluhan Zahrana ia dengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali dokter itu menghiburnya
dengan perkataan yang lembut dan menyejukkan.
Senyumnya mengalirkan kesembuhan.
“Jadi, ibu ini Ibu Zahrana yang pengajar di Fakultas
Teknik Universitas Mangunkarsa itu?”
Zahrana mengangguk.
“Berarti ibu kenal dengan anak saya ya?”
“Siapa nama anak Bu Dokter?”
“Namanya Hasan. Hasan Baktinusa.”
“O kenal. Bahkan sangat kenal. Selamat ya Bu atas
diwisudanya Hasan sebagai wisudawan terbaik. Salam
buat Hasan. Semoga urusan beasiswanya lancar.”
“Ya nanti saya sampaikan. Hasan sering sekali cerita
tentang Bu Zahrana. Terima kasih telah banyak
membantu anak saya.”
“Sama-sama, Bu.”
Pertemuan dengan dokter berjilbab yang ternyata
ibundanya Hasan itu membuatnya seolah bisa bernafas.
Dokter berjilbab itu juga bisa menyegarkannya dengan
sedikit cerita masa mudanya yang sebenarnya mirip
dengan Zahrana. Bu dokter bernama Zulaikha, biasa
dipanggil Bu Dokter Zul itu ternyata juga menikah
dalam usia yang sangat terlambat.
“Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi seperti
apapun tak akan kembali. Jodoh itu terkadang
dikejarkejar tidak tertangkap. Tapi terkadang tanpa
dikejar datang sendiri. Yang paling penting adalah dekat dengan Allah dalam keadaan susah dan bahagia.
Senang dan sedih.”
Zahrana seperti mendapatkan suntikan darah segar.
Daya hidupnya tumbuh kembali. Dalam hati dia berkata,
“Ya benar. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi
seperti apapun tak akan kembali.”
Sebelum pergi Bu Dokter itu berkata, “Ada nasihat
sangat bagus sekali dari Anton Chekov.”
“Apa itu Bu?” tanya Zahrana pelan.
“Anton Chekov pernah menulis, ‘Suatu saat kamu perlu
untuk tidak memikirkan kesuksesan dan kegagalan.
Jangan biarkan hal itu mengganggu dirimu!’ .”
“Nasihat yang baik sekali Bu.”
“Ya. Tidak ada salahnya untuk memperkaya jiwa
kaubaca juga karya-karya sastra.”
“Terima kasih Bu atas semuanya.”
* * *
Derita Zahrana ternyata tidak cukup sampai di situ.
Tanpa sepengetahuannya, di rumahnya terjadi musibah
kedua. Pak Munajat, ayahnya, yang memang telah renta
tidak kuat menahan tekanan batin. Ia terkena serangan
jantung. Dengan cepat ia dilarikan ke rumah sakit.
Namun tak tertolong. Nyawanya melayang di
perjalanan.Hari itu ia meninggal menyusul calon menantunya.
Berita kematian Pak Munajat tidak disampaikan kepada
Zahrana. Zahrana baru tahu setelah ia pulang dari
rumah sakit dengan jiwa yang telah kukuh.
Mengetahui ayahnya telah tiada ia menangis, namun
tidak sampai pingsan. Lengkap sudah penderitaan
Zahrana.
Berita pernikahan yang tidak jadi karena pengantin
lelakinya tertabrak kereta api itu dimuat koran
terkemuka Jawa Tengah, Suara Mahardika. Kematian
Rahmad yang mengenaskan masih diselidiki polisi. Polisi
menyelidiki saksi-saksi. Polisi mencurigai orang yang
menelpon Rahmad. Orang itu belum juga ditemukan dan
masih dalam pencarian.
Beberapa hari setelah itu teman-temannya
berdatangan mengucapkan bela sungkawa. Juga
temanteman dosen Fakultas Teknik. Hampir semuanya
datang.
Termasuk Bu Merlin dan Pak Karman. Zahrana sangat
kaget ketika Pak Karman datang. Di hadapan Zahrana
Pak Karman berkata pelan sekali,
“Saya ikut berduka. Semoga almarhum berdua diterima
di sisi-Nya. Saya berharap semoga gaun pengantinmu
benar-benar telah kaukembalikan ke Solo!”
Zahrana tersentak. Kata-kata Pak Karman bagai aliran
listrik yang menyengatnya. Kata-kata itu menguatkan
keyakinannya bahwa yang menterornya selama ini
adalah Pak Karman. Dan bagaimana bisa Pak Karman
tahu ia membeli gaun pengantin itu dari Solo.
Tiba-tiba firasatnya mengatakan kematian calon
suaminya ada hubunganya dengan SMS terakhir Pak
Karman. Dan pada hakikatnya, kata-kata Pak Karman
yang baru saja ia dengar adalah satu bentuk teror
dahsyat yang hendak melumpuhkannya saat itu. Tibatiba
kekuatannya bangkit. Ia merasa tidak boleh
terpancing. Ia harus bisa mengendalikan diri. Ia harus
menang. Ia harus tenang.
“Terima kasih berkenan datang Pak.” Jawabnya dengan
pura-pura tidak memperhatikan perkataan Pak Karman.
Entah kenapa firasat Zahrana terus mengatakan bahwa
Pak Karman ada di balik kematian calon suaminya. la
ingin lapor polisi, jangan-jangan orang misterius yang
menelpon calon suaminya sebelum kecelakaan itu adalah
Pak Karman, atau suruhannya.
Tapi ia tidak punya bukti. la bingung harus berbuat apa.
la diskusikan kebingungannya itu pada Lina. Hanya Lina
yang kini bisa diajaknya bicara.
“Aku yakin sekali Lin. Iblis tua itu ada di balik kematian
Mas Rahmad. Aku yakin!” kata Zahrana berapi-api.
Lantas ia menunjukkan data-data yang menguatkan
dugaannya itu. Lina menanggapinya dengan kepala
dingin,
“Sudahlah Rana. Jangan menambah rumit masalah.
Jangan merepotkan diri sendiri. Jangan menuduh tanpa
bukti! Salah-salah kau sendiri yang tertuduh nanti!”
“Data-data tadi. SMS saat aku mencoba gaun
pengantin. Perkataannya saat mengucapkan bela
sungkawa. Dan dendamnya kepadaku sehingga ingin
memecatku, tidak bisa dianggap sebagai bukti?” seru
Zahrana.
“Aku bukan pakar hukum Rana. Tapi sebaiknya kau
fokus pada yang lain saja. Diikhlaskan saja. Orang yang
ikhlas itu pasti menang. Karena orang yang ikhlas itu
selalu disertai Allah.” Sahut Lina pelan. Ia lalu
mengambil koran dari tasnya.
“Apalagi polisi sudah mengumumkan bahwa kematian
Rahmad murni karena kecelakaan. Coba kaubaca ini
baca!” lanjut Lina sambil menyodorkan koran Suara
Mahardika.
Zahrana mengambil koran dari tangan Lina. Dan
membaca berita yang dimaksud Lina. Ia menghela nafas
panjang. Ada rasa kecewa dalam tarikan nafasnya. Lina
menangkapnya. Lina berusaha menghibur,
“Sudahlah Rana, sabarkan dirimu. Kuatkan imanmu. Ini
ujian bagimu dari Allah, apakah kau jadi hamba-Nya
yang pilihan apa tidak. Kata Rasulullah, semua perkara
bagi orang Mukmin itu baik. Jika dapat nikmat
bersyukur, dan jika dapat musibah bersabar. Semoga
musibah ini jadi pahala.” Lanjut Lina.
“Sebaiknya kautenangkan diri. Nanti ikhtiar lagi.”
Zahrana mengangguk. Dalam hati Zahrana bertekad
untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Ia
teringat perkataan Bu Nyai saat memberikan ucapan
bela sungkawa,
“Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
Kita semua tunduk pada takdir-Nya. Yang Paling
berkuasa di atas segalanya adalah Allah Swt.”
Sejak itu, Zahrana nyaris tidak pernah meninggalkan
shalat malam. Ia labuhkan segala keluhkesah dan
deritanya kepada Yang Maha Menciptakan.
Ia pasrahkan dirinya secara total kepada Allah. Dalam
keheningan malam ia berdoa,
“Ya Rabbi, ikhtiar sudah hamba lakukan, sekarang
kepada-Mu hamba kembalikan semua urusan. Ya Rabbi,aku berlindung kepada-Mu dari semua jenis kejahatan
yang terjadi di atas muka bumi ini. Ya Rabbi, aku
memohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau
ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala hal
buruk yang Engkau ketahui.”
* * *
Bulan Ramadhan datang. Zahrana semakin menikmati
ibadahnya. Selesai Tahajjud, Zahrana menyiapkan
sahur. Ibunya masih tidur. Begitu semua siap, Zahrana
membangunkan ibunya dengan penuh kelembutan.
Sang ibu lalu cuci muka, kemudian makan sahur. Rumah
itu terasa begitu sunyi. Hanya Zahrana dan ibunya yang
duduk di meja makan itu.
“Ramadhan tahun lalu, kita masih makan sahur bersama
ayahmu ya Nak.”
“Iya Bu. Sudahlah Bu jangan diingat itu lagi.”
“Apakah aku masih berkesampatan melihat kau duduk
di pelaminan ya Nak.”
“Sudahlah Bu. Kita serahkan semuanya kepada Allah.
Jika Allah menghendaki apapun bisa terjadi.”
Selesai sahur Zahrana membaca Al-Quran sementara
ibunya shalat. Begitu azan Subuh berkumandang
mereka berdua pergi ke masjid. Selain untuk shalat
Subuh berjamaah mereka juga ingin mendengarkan
Kuliah Subuh yang diadakan selama Bulan Suci
Ramadhan Habis dari masjid Zahrana mengajak ibunya berjalanjalan
menghirup udara pagi keliling komplek perumahan.
Mereka berdua masuk rumah ketika matahari sudah
terang bersinar di ufuk. Zahrana langsung mandi dan
bersiap-siap mengajar.
Jam tujuh kurang sepuluh menit ia sudah sampai di
kantor STM Al Fatah. Waktu sepuluh menit sebelum
bel berbunyi ia gunakan untuk membaca koran. Ia
penasaran pada sebuah judul berita:
KARENABERBUAT CABUL, SEORANG DEKAN MATI
DIBUNUH DI RUANG KERJANYA.
“Semarang – Sepandai-pandai orang menyimpan
bangkai, akhirnya kecium juga. Peribahasa ini agaknya
layak untuk S (55 tahun), Dekan Fakultas Teknik
Universitas Mangunkarsa Semarang. Perilaku cabulnya
kepada mahasiswi yang selama ini disembunyikannya
akhirnya terkuak. Ia tewas mengenaskan di ruang
kerjanya ditikam oleh H (26 tahun) mahasiswa Fakultas
Teknik yang marah karena isterinya bernama M (24
tahun) diperlakukan tidak senonoh oleh dekan jebolan
universitas terkemuka dari Amerika Serikat itu. Dua
mahasiswa suami isteri itu, H dan M kini ditahan pihak
berwajib untuk penyelidikan lebih lanjut….”
Zahrana berkata pelan dalam hati, “Becik ketitik olo
kethoro!” Ia lalu bertakbir dalam hati. Ia merasa
doanya dikabulkan oleh Allah. Yang jahat itu akhirnya
mendapatkan balasannya sendiri.
Setelah itu ia masuk kelas dengan penuh semangat.
Anak-anak didiknya ia ajak ke perpustakaan. Ia
menugaskan kepada mereka untuk membaca buku yang berkenaan dengan puasa. Puasa dan hubungannya
dengan kesabaran. Seorang siswa yang kritis protes,
“Kok tugasnya membaca buku tentang puasa Bu.
Memang pelajaran kita ini pelajaran agama. Pelajaran
kita kan tentang menggambar teknik listrik Bu?”
Dengan tersenyum Zahrana menjawab,
“Justru itulah karena dalam menggambar teknik listrik
memerlukan kesabaran yang tinggi. Maka ibu ingin
kalian memiliki ruh kesabaran itu. Mumpung kita masuk
bulan puasa. Ayo kita kaji hubungan puasa dengan
kesabaran. Dan hubungan puasa dengan penghematan.
Dan juga hubungan puasa dengan prestasi umat Islam.
Kita ke perpustakaan selama dua jam pelajaran. Kalian
membaca yang serius. Hasil bacaan kalian, kalian
presentasikan satu per satu minggu depan.”
Anak-anak siswa kelas satu itu sangat gembira. Sebab
diajak oleh guru masuk ke perpustakaan yang jarang
mereka dapatkan. Bagi mereka, cara Bu Zahrana
mengajar itu berbeda dengan guru-guru yang lain.
Selalu ada hal yang baru. Mata pelajaran menggambar
teknik listrik di tangan Bu Zahrana jadi pelajaran yang
sangat mengasyikkan. Bisa masuk ke banyak hal tanpa
kehilangan fokus utama pelajaran.
Sore itu setelah shalat Ashar Zahrana pergi ke warung
untuk membeli kelapa, gula merah, dan tepung terigu. la
ingin membuat kolak untuk buka puasa. Juga membuat
mendoan dan bakwan. Ibunya ternyata sudah
menyiapkan es degan. Sudah dimasukkan di lemari es
sejak siang.Pulang dari warung ia agak terkejut, sebab ada mobil
sedan tepat di depan rumahnya. Ia menduga-duga siapa
yang datang. Setelah masuk ia tahu kalau yang datang
ternyata Bu Dokter Zulaikha, ibundanya Hasan.
“Dari mana Bu Zahrana?” tanya Bu Zul.
“Dari warung Bu Zul, ini beli bahan-bahan untuk bikin
kolak. Sendirian ya Bu?”
Iya.
“Hasan apa kabarnya? Urusan beasiswanya ke Malaysia
beres semua?”
“Alhamdulillah Hasan baik-baik saja. Dia titip salam.
Dia tadi masih sibuk nulis-nulis entah nulis apa.”
“Senang ibu berkenan dolan ke sini. Ini mampir atau
memang menyengaja ke sini?” tanya Zahrana santai.
“Menyengaja ke sini em…”
Ibunda Zahrana yang sedari tadi diam menyela,
“Nak, Bu Zul ini datang karena ada keperluan penting
denganmu. Katanya ada hal serius yang ingin beliau
konsultasikan denganmu. Sini biar ibu yang bikin kolak,
kau bisa bincang-bincang dengan beliau.”
Bu Zul langsung menimpal, “Maaf jika kedatangan saya
mengganggu.”
“O nggak apa-apa Bu,” sahut Ibunda Zahrana cepat,
“saya tinggal ke belakang dulu ya Bu. Silakan bicara
dengan Zahrana,” lanjutnya lalu pergi ke arah dapur.
Zahrana diam, Bu Zul pun diam. Suasana hening sesaat.”Eh..konsultasi apa ya Bu?” Zahrana memecah
keheningan.
“Eh ini. Tentang Hasan, anak saya.”
“Ada apa dengan Hasan, Bu?”
“Sebelumnya maaf ya Bu, saya tidak bermaksud
menyinggung siapa-siapa lho. Karena saya tahu, ibu
termasuk yang didengar omongannya oleh Hasan, maka
saya konsultasi sama Bu Zahrana. Begini, dua hari yang
lalu Hasan minta nikah Bu. Menurut ibu bagaimana?
Padahal dia kan mau kuliah di Malaysia Bu.”
Zahrana mengerutkan dahi,
“Kalau menurut saya pribadi tidak ada salahnya Hasan
menikah baru ke Malaysia. Kalau bisa isterinya dibawa,
kalau tidak bisa ya tidak apa-apa isterinya ditinggal di
Indonesia. Toh Malaysia-Indonesia itu dekat. Sekarang
tiket pesawat juga murah.”
“Apa menurut Ibu, Hasan sudah layak menikah? Sudah
layak punya isteri? Dan bisa bertanggung jawab
menghidupi anak jika punya anak?”
“Pendapat saya ini sangat subjektif dari saya Bu.
Menurut saya Hasan sudah sangat layak menikah.
Selama saya tahu dia di kampus, dia bisa diandalkan
tanggung jawab dan kepemimpinannya. Kenapa Ibu
masih ragu dengan anak sendiri?”
“Saya tidak ragu Bu. Tapi saya mencari kemantapan.
Biar mantap jika saya melepas Hasan ke dunia baru
yang penuh perjuangan dan aral melintang.””Mantap saja Bu. Menikah dini bagi orang seperti
Hasan itu baik. Saya saja menyesal tidak menikah dini
dulu.”
“Itulah kenapa saya kemari. Selain tentang diri Hasan,
saya ingin berdiskusi pada ibu tentang calon yang
diajukan Hasan.”
“Semoga saja saya kenal dengan calon Hasan itu. Dia
kuliah sama dengan Hasan di Fakultas Teknik?”
“Tidak Bu. Saya langsung saja ya Bu. Maaf sebelumnya,
Hasan meminta kepada saya untuk melamar Bu
Zahrana. Calon yang diajukan Hasan, anak saya itu Ibu.”
Zahrana kaget bagai disambar Halilintar.
“S…saya Bu?!”
“Iya. Ibu. Anak saya ingin menikahi ibu!”
“Maaf, Bu. Mungkin Hasan cuma bercanda. Saya tidak
pernah berlaku yang tidak-tidak sama Hasan Bu,
sungguh.” Jawab Zahrana dengan nada takut dan
kuatir.
la kuatir jika Bu Zul itu datang untuk membuat
perhitungan dengannya. Takut kalau ia dianggap
berhubungan dengan Hasan.
“Nggak Bu, Hasan tidak bercanda. Anakku sangat
serius dalam hal ini.”
“Kalau begitu Hasan salah pilih, Bu.”
Bu Zul malah tersenyum,
“Bu Zahrana kok kelihatannya takut ada apa tho, Bu?”
“Ibu harus percaya pada saya Bu. Saya tidak punya
hubungan apapun dengan Hasan kecuali dosen dengan
muridnya Bu. Sungguh Bu!?”
Bu Dokter Zul itu geleng-geleng kepala dan tersenyum.
Dia langsung paham maksud Zahrana.
“Bu Zahrana, saya tidak pernah menuduh begitu. Saya
percaya pada ibu. Juga percaya pada anak saya. Saya
datang kemari untuk menunaikan janji saya pada anak
saya itu. Saya berjanji akan membantunya menyunting
gadis manapun yang ingin dinikahinya selama akhlak dan
agamanya bagus. Dan ketika Hasan ingin menyunting Bu
Zahrana, saya langsung setuju. Sebab saya sudah tahu
semuanya tentang ibu dari teman ibu, yaitu Bu Lina.
Saya berharap. Dan sangat berharap Bu Zahrana tidak
menolak pinangan ini. Ini pinangan serius tapi belum
resmi. Jika Bu Zahrana serius nanti saya akan
meminang secara resmi dengan membawa Hasan dan
ayahnya juga beberapa anggota keluarga.”
Zahrana tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang
disampaikan Bu Zul itu sangat jelas ia dengar dan
sangat jelas maksudnya. Tak ada yang tersembunyi lagi.
“Ibu sudah tahu say a tapi Hasan belum tahu saya Bu.”
“Dia lebih tahu dari saya tentang diri Bu Zahrana. Apa
yang masih membuat Bu Zahrana ragu.”
“Saya masih belum bisa percaya Bu. Ini hal gila.
Mahasiswa melamar dosennya. Apa kata dunia?”
“Harus bagaimana saya agar ibu percaya. Sumpah demi
Allah? Baiklah saya bersumpah demi Allah semua yang
saya sampaikan benar. Apa lagi? Hal gila? Tidak Bu,tidak gila. Melangkah untuk mengikuti sunah Rasul itu
bukan ide gila. Itu ide baik. Dan mahasiswa meminang
dosen, apakah ada dalil yang mengharamkannya?”
“Saya tidak tahu harus bicara apa lagi.”
“Berarti menerima. Tidak bicara berarti diam. Diam
tanda menerima.”
“Saya ini lebih tua dari Hasan Bu. Dia cocoknya jadi
adik saya.”
“Syariat tidak menentukan batasan umur. Ibu memang
lebih tua. Tapi tidak terpaut jauh. Cuma empat tahun.
Hasan umurnya 29. Mukanya memang baby face. Bagi
saya sendiri tidak masalah. Toh suami saya juga lebih
muda dua tahun dari saya.”
“Saya belum bisa menerima Bu?”
“Kenapa? Kata ibu tadi Hasan sudah pantas menikah
dan memiliki isteri. Apa lagi? Apa ada dalam diri Hasan
suatu cacat yang menurut ibu layak ditolak
lamarannya?”
Zahrana diam. la tidak tahu harus bagaimana. la masih
belum tahu apa yang terjadi. Hasan melamarnya?
Bagaimana mungkin? Tapi ibunya sedemikian serius. Apa
yang harus ia putuskan. Zahrana tetap diam.
“Diam berarti menerima. Saya pamit Bu, mana ibunda
tadi?”
Zahrana tersentak mendengar Bu Zul mau pamit. Ia
berdiri mengikuti Bu Zul yang sudah berdiri.
“Ibu benar-benar serius?”
“Iya.”
“Hasan juga benar-benar serius?”
“Iya.”
“Kalian sudah tahu kekuranganku dan maumenerimaku?”
“Iya. Tak ada manusia yang sempurna.”
“Kalau begitu saya terima, tapi dengan syarat.”
“Apa syaratnya?”
“Akad nikahnya nanti malam bakda shalat Tarawih di
masjid. Biar disaksikan oleh seluruh jamaah masjid.
Maharnya seadanya saja.”
Kini gantian Bu Zul yang tersentak kaget. Ia tidak
menduga Bu Zahrana akan mensyaratkan begitu.
“Apa nggak sebaiknya akadnya setelah Idul Fitri saja.”
“Tidak. Ibu sudah tahu kan cerita saya selama ini. Apa
ibu ingin saya mati kaku gara-gara saya tidak jadi nikah
lagi. Saya tidak ragu dengan keseriusan ini. Saya hanya
kuatir ada hal-hal di luar kekuasaan kita yang
membatalkan rencana itu. Bagi saya lebih baik ya nanti
malam, atau tidak sama sekali.”
Bu Zulaikha memandang wajah Zahrana lekat-lekat.
Wajah yang teduh, namun sangat berkarakter.
“Baiklah. Dalam hal ini saya tidak memutuskan sendiri.
Saya akan bicara sama anak dan keluarga. Saya pamit
dulu. Setelah Maghrib nanti saya telpon.”
Dokter berjilbab itu pulang setelah bersalaman dengan
Zahrana dan ibunya. Zahrana memandang sedan dokter
itu hingga hilang di tikungan. Ada kebahagiaan
menyusup dalam hatinya. Tapi juga ada kecemasan. la memang lagi bahagia. Namun untuk membentengi diri
agar tidak kecewa lagi setelah kebahagiaan di depan
mata, ia menganggap dialognya dengan Bu Zul tadi
hanya main-main. Dialog latihan orang bermain drama
atau sandiwara.
* * *
Azan Maghrib berkumandang. Tanda waktu buka puasa
tiba. Zahrana meneguk kolak dan makan mendoan. Ada
kenikmatan luar biasa saat buka. Kenikmatan yang
susah diungkapkan dengan kata-kata.
Hanya orang-orang yang berpuasa saja yang bisa
merasakannya. Pembicaraan dengan Bu Zul itu tidak
Zahrana sampaikan kepada ibunya. Ia tak ingin ibunya
kecewa jika yang diharapkan tak terjadi lagi.
Setelah shalat Maghrib Zahrana mendapat telpon dari
Bu Zul,
“Bu Zahrana. Mengenai keputusan syarat yang Bu
Zahrana ajukan, ini ibu langsung dengar sendiri suara
Hasan ya..”
Suara di hand phone Zahrana lalu berubah,
“Bu Zahrana ini Hasan. Saya setuju dengan syarat ibu.
Ibu siapkan wali dan saksinya saya akan siapkan
maharnya dan penghulunya. Kami sekeluarga insya Allah
berangkat sekarang, dan kami shalat Isya di masjid
dekat rumah Ibu.”
“Kau serius Hasan?”
“Iya Bu.”
“Kau bisa mencintaiku?”
“Iya Bu.”
“Kalau begitu jangan lagi kaupanggil aku Ibu. Panggil
aku, Dik. Dik Zahrana. Coba kau bisa nggak?”
Zahrana merasa tak perlu malu.
“Saya coba…Dik Zahrana, tunggu aku di masjid.”
Mata Zahrana berkaca-kaca mendengarnya. Ribuan
hamdalah menyesak dalam dada.
“Te..terima kasih. Kita bertemu di masjid, insya Allah.”
Sambungan ditutup.
Zahrana menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu sang
ibu bingung dan bertanya-tanya pada Zahrana. Dengan
terisak-isak Zahrana menjelaskan apa yang terjadi.
Sang ibu turut menangis. Zahrana lalu sujud syukur.
Dalam sujudnya Zahrana memohon kepada Allah agar
akad nikah itu benar-benar terjadi. Tidak sekadar
angan-angan dan mimpi.
Dan pada malam kedua di Bulan Suci Ramadhan itu, apa
yang diharapkan Zahrana terjadi. Akad nikah setelah
shalat tarawih disaksikan oleh jamaah yang membludak.
Sebagian besar adalah tetangga Zahrana.
Mereka turut terharu. Saat akad nikah ibu Zahrana
menangis tersedu-sedu. Beberapa ibu-ibu juga
menangis.
Malam itu Zahrana sangat bahagia. Hasan juga
merasakan hal yang sama. Usai akad nikah Hasan mengajak Zahrana naik mobilnya menuju hotel
termewah di tengah Kota Semarang. Di dalam hotel,
dengan penuh kekhusyukan Zahrana menunaikan
ibadahnya sebagai seorang isteri. Ibadah yang sudah
lama ia tunggu-tunggu bersama seorang suami.
Di mata Hasan, Zahrana yang tampak manis dengan
jilbab putihnya ternyata jauh lebih manis ketika
rambutnya terurai. Hanya dia yang tahu seperti apa
manisnya Zahrana. Mereka berdua saling mengagumi,
saling mencintai dan saling menghormati.
Kebahagiaan Zahrana malam itu menghapus semua
derita yang dialaminya. Tasbih selalu mengiringi tarikan
nafasnya. Ia semakin yakin, bahwa Allah bersama
orang-orang yang sabar dan ihsan.
Malam itu, benar-benar malam kesaksian Zahrana atas
Tasbih, Tahmid dan Takbir Cinta yang didendangkan
Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya.
Subhaanallaah wal hamdulillaah, wa laailaahaillallaahu
wallaahu akbar!
Candiwesi-Salatiga-Pesantren Basmala-Semarang,
Ahad 30 Juli 2006 Pukul 15:51

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s